LAEYA – SULTRAICON.COM.|| Suara kritis terhadap stagnasi organisasi Himpunan Pemuda Mahasiswa Laeya (HIPMAL) kembali mencuat. Kali ini datang dari Muh. Hugo Surahmin, mahasiswa asal Kecamatan Laeya yang juga merupakan anggota aktif HIPMAL. Ia menyoroti mandeknya aktivitas organisasi sejak terakhir kali Musyawarah Besar (Mubes) dilaksanakan pada 2022 silam.
Menurut Hugo, tidak adanya regenerasi, keterbukaan informasi, serta minimnya kegiatan nyata dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa HIPMAL sedang berada dalam krisis kepemimpinan dan semangat kolektif, Selasa (22/07/2025)
“Kita ini organisasi pemuda, bukan sekadar komunitas reuni. Sudah terlalu lama tak ada Mubes, tak ada pergantian pengurus, dan transparansi pun nihil. Lalu sebenarnya kita mau bawa HIPMAL ke mana?” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa lambannya proses pergantian kepengurusan bukanlah hal sepele. Bagi Hugo, kondisi tersebut mencerminkan pola pikir pasif yang mulai mengakar dalam tubuh organisasi.
Padahal, lanjutnya, HIPMAL dibentuk sebagai wadah produktif bagi anak-anak muda Laeya untuk mengabdi pada daerah, bukan sekadar nama yang terpampang di spanduk saat momen-momen tertentu.
“Kita bukan organisasi simbolik. Kalau kita biarkan seperti ini, maka kita sendiri yang perlahan-lahan menghilangkan makna dari nama HIPMAL,” ujarnya tajam.
Namun, di balik kritik yang dilontarkan, Hugo membawa harapan. Ia mendorong agar Mubes segera dilaksanakan dan menyerukan kepada seluruh elemen organisasi, baik anggota aktif maupun mantan pengurus, untuk menanggalkan ego masing-masing dan duduk bersama merancang masa depan HIPMAL yang lebih sehat dan terbuka.
“Jabatan itu bukan warisan, dan HIPMAL bukan milik pribadi. Ini milik kita bersama. Kalau bukan kita yang membenahi, siapa lagi?” serunya.
Hugo juga mengajak seluruh pemuda Laeya untuk tetap peduli dan berani menyuarakan perubahan, agar HIPMAL tidak menjadi organisasi yang kehilangan arah dan akhirnya tenggelam dalam ketidakpedulian.