KOLAKA UTARA – SULTRAICON.COM.|| Warga Desa Loka, Kecamatan Tolala, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, digegerkan oleh penemuan mayat seorang pria berinisial S (47) yang tewas secara tragis pada Sabtu sore, 12 Juli 2025. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tergeletak di pinggir jalan dengan luka tusuk dan bacokan, serta sebuah tombak yang masih tertancap di dadanya.
Kapolsek Tolala, Ipda Andi Jusman, membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan bahwa pihaknya langsung bergerak menuju lokasi begitu menerima laporan dari warga. Di tempat kejadian perkara (TKP), korban ditemukan telah tak bernyawa dengan sejumlah luka parah di tubuhnya. Polisi pun segera melakukan olah TKP untuk mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi.
Dari hasil pemeriksaan awal, korban diketahui mengalami luka sabetan benda tajam serta tusukan yang dalam, diduga akibat tombak. Yang mengejutkan, senjata tajam berupa tombak masih tertancap di dada korban saat ditemukan. Selain itu, parang milik korban yang biasanya dibawa sehari-hari tidak ditemukan di lokasi.
Berdasarkan keterangan istri korban dan beberapa saksi, kuat dugaan bahwa motif pembunuhan berkaitan dengan konflik lama antara korban dan seorang pria berinisial A. Perselisihan keduanya disebut-sebut dipicu oleh perebutan saluran air irigasi yang melewati area kebun masing-masing. Terduga pelaku A saat ini masih dalam pengejaran aparat.
Pihak kepolisian, termasuk tim dari Satreskrim Polres Kolaka Utara, tengah melakukan upaya intensif untuk menangkap pelaku yang melarikan diri usai kejadian. Sementara jenazah korban telah dievakuasi dari lokasi terpencil menuju rumah sakit, meski proses tersebut memakan waktu hingga enam jam karena medan yang sulit.
Ps. Kasubsid Humas Polres Kolaka Utara, Aipda A. Syaiful, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial. Ia memastikan bahwa proses hukum akan ditegakkan dan pihaknya berkomitmen untuk mengungkap kasus ini secara tuntas.
Insiden berdarah ini pun ramai menjadi perbincangan di media sosial, terutama setelah beredarnya foto kondisi korban di lokasi kejadian. Namun, aparat meminta publik tidak menyebarkan gambar-gambar sensitif tersebut demi menghormati keluarga korban serta menjaga suasana tetap kondusif.