Oleh: Sri Prabu Menakjinggo
KENDARI — SULTRAICON.COM.|| Tanda sebuah negara yang sedang berjalan menuju ambang pintu keruntuhan dapat diketahui dari bagaimana negara tersebut memungut pajak. Kenaikan angka pemungutan pajak yang terjadi secara signifikan mengindikasikan jika negara mengalami kendala manajerial yang buruk.
Dewasa ini, jika teliti dan cermat saudara-saudara memperhatikan dinamika sejarah, tentu saudara akan dapat menyusun proposisi-proposisi untuk mendapatkan kesimpulan. Tes gelombang pemerintah melalui public policy yang tiba di permukaan akan menjadi satu kesimpulan yang paling sederhana dari pertanyaan pertama, yakni negara sedang mengalami collapse.
Huru-hara berupa kekerasan, drama yang bertele-tele, dan pertumpahan darah satu per satu mulai tayang di pentas pertunjukan sosial hari ini. Hal tersebut disebabkan api kemarahan rakyat tersulut karena klasifikasi sosial yang kontras mengakibatkan kesengsaraan. Antara beban hidup rakyat miskin dengan gaya hidup orang kaya (pejabat, birokrat, konglomerat, lintah darat) mulai menebarkan benih-benih kebencian. Kontras yang tajam tersebut selalu dibersamai dengan keangkuhan pejabat dan birokrat yang terus memprovokasi keadaan.
Suatu ramalan akan segera tibanya suatu masa di mana kesengsaraan rakyat miskin yang tertindas akan memuncak kemarahannya. Waktu di mana pejabat-pejabat angkuh, konglomerat-konglomerat pelit, dan lintah darat tanpa rasa kemanusiaan akan terseret hina di jalanan sejarah keruntuhan kaum penindas.
Memperhatikan angka korupsi yang sangat tinggi serta sukarnya mendapatkan keadilan, serta kesewenang-wenangan penegakan hukum terus disiarkan di hadapan kesengsaraan hidup rakyat miskin, sementara aristokrat, sarjanawan, dan organisasi kemahasiswaan tidak lagi mendapat kepercayaan untuk mewakili rakyat yang sengsara, maka demikianlah waktu yang tepat akan segera berkobarnya api perlawanan masyarakat.
Apa yang sedang terjadi di sebuah kabupaten yang viral hari ini di media meyakinkan kita bahwa jika rakyat benar-benar marah, maka usailah keangkuhan-keangkuhan itu sebenarnya. Peristiwa tersebut sebenarnya flashback akan peristiwa besar yang pernah terjadi dalam sejarah: perang tani di Jerman yang diceritakan Engels, atau peristiwa Bolshevik yang terjadi di Rusia. Persis sama, bahwa satu-satunya isyarat dalam sejarah yang dapat menghentikan kesengsaraan rakyat miskin adalah kemarahan mereka yang terorganisir.
Engels pada Perang Suci mengemukakan bahwa revolusi yang terbakar tidak pernah dimulai dari bangku sekolah yang hanya menyediakan manusia, tetapi badai revolusi akan tertiup ketika rakyat miskin terbakar oleh sabda rasul yang dilahirkan oleh kemanusiaan.
Saudara-saudara, ada satu siklus yang berulang-ulang untuk menyusun sejarah bahwa zaman yang makmur akan menciptakan manusia-manusia pemalas, manusia-manusia pemalas akan menciptakan pemerintahan yang culas, pemerintahan yang culas akan menciptakan zaman yang sukar, zaman yang sukar akan menciptakan manusia yang melawan dan membebaskan, manusia yang membebaskan akan meruntuhkan zaman yang penuh penindasan dan menyediakan kembali kehidupan dan zaman yang makmur.
Jika membaca siklus ini dengan cermat dan mendalam, saudara-saudara akan mengerti makna dari kalimat sederhana bahwa sejarah selalu berulang. Beda orang, beda masa, tetapi peristiwanya tetap sama: penindasan dan ketertindasan.
Revolusi tidak pernah terjadi dalam waktu satu malam yang tidak tidur, tapi akan terjadi ketika kemiskinan benar-benar marah.