OpiniDaerah

Bendera One Piece: Ketika Rakyat Menyerah Pada Simbol Negara

187
×

Bendera One Piece: Ketika Rakyat Menyerah Pada Simbol Negara

Sebarkan artikel ini
Ketgam: IMMawan Tino ( Kader PK IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Kendari )

Oleh: IMMawan Tino

 

KENDARI-SULTRAICON.COM.|| Di jalan-jalan, di tengah terik dan debu, bendera bajak laut One Piece berkibar. Bukan bendera Merah Putih yang biasanya berdiri gagah di setiap aksi protes. Ini bukan sekadar fanatisme anime, bukan pula kelakuan iseng anak muda. Ini adalah teriakan diam-diam yang memekakkan telinga: rakyat mulai kehilangan kepercayaan pada simbol negaranya sendiri.

Mengapa mereka memilih bendera fiksi? Karena bendera itu dengan tengkorak tersenyum dan topi jerami mewakili sesuatu yang mereka tak lagi temukan di Merah Putih. keberanian menantang tirani, tekad melawan ketidakadilan, dan janji untuk membela mereka yang tertindas. Ironisnya, semua itu seharusnya menjadi makna dari bendera negara, tapi kini terasa kosong.

Rakyat kecil semakin terhimpit, harga bahan pokok melambung, sekolah dan rumah sakit bermutu hanya untuk yang mampu membayar mahal, lapangan kerja semakin sempit. Di sisi lain, korupsi terus merajalela, hukum seperti pisau tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, dan suara rakyat kerap dibungkam. Dalam situasi ini, simbol Luffy bukan sekadar ikon hiburan ia menjadi bendera perang bagi hati yang luka.

Pengibaran bendera One Piece adalah sindiran telak, ketika simbol negara tak lagi melindungi, rakyat akan menciptakan simbol baru yang mau berdiri bersama mereka. Dan pesan itu tak main-main karena ia lahir dari kekecewaan yang dalam. Pemerintah bisa menganggapnya guyonan, bisa memandangnya remeh. Tapi sejarah membuktikan: tanda-tanda kecil ketidakpuasan, bila diabaikan, akan meledak menjadi gelombang yang tak terbendung.

Fenomena ini membentang dari desa terpencil hingga kota besar, mengangkat isu ketimpangan sosial, perampasan lahan, hingga pelanggaran HAM. Bentuk protesnya kreatif, tapi pesannya tegas yakni rakyat masih waras, rakyat masih berani, dan rakyat masih punya harapan meski harus diwakili oleh bendera bajak laut fiksi.

Kita harus jujur, ini bukan soal rakyat yang tidak cinta tanah air. Ini soal negara yang terlalu sering gagal mencintai rakyatnya. Nasionalisme tak hidup di upacara seremonial atau slogan kosong, melainkan dalam kebijakan yang adil, hukum yang berpihak, dan pemimpin yang mendengar.

Jika pemerintah ingin Merah Putih kembali berkibar di hati rakyat, maka kembalikan makna yang pernah ia bawa. Karena ketika rakyat mulai mencari pahlawan di dunia fiksi, itu tandanya mereka sudah terlalu lama dikhianati di dunia nyata.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *