Daerah

Menggantungkan Hidup pada Laut, Enam Anak Yatim Piatu Bertahan Tanpa Ayah dan Ibu

140
×

Menggantungkan Hidup pada Laut, Enam Anak Yatim Piatu Bertahan Tanpa Ayah dan Ibu

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Arjun, Rafli, Cinta, Kefin, Novi, dan Rindu. enam bersaudara yang kini tinggal di sebuah gubuk sederhana peninggalan orang tua mereka. Sang ayah, Pajjing, wafat pada Juni 2021, sementara sang ibu, Intang, telah lebih dahulu berpulang pada April 2020

BOMBANA — SULTRAICON.COM.|| Tak seorang pun menginginkan tumbuh tanpa kehadiran orang tua. Namun, takdir berkata lain bagi enam anak di Pulau Sagori, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Sejak kecil, mereka harus belajar mandiri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Anak-anak ini adalah Arjun, Rafli, Cinta, Kefin, Novi, dan Rindu. enam bersaudara yang kini tinggal di sebuah gubuk sederhana peninggalan orang tua mereka. Sang ayah, Pajjing, wafat pada Juni 2021, sementara sang ibu, Intang, telah lebih dahulu berpulang pada April 2020.

Menurut Lurah Sikeli, Khairil, seluruh anak ini masih di bawah umur. Anak sulung baru berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMP, sedangkan si bungsu baru berusia 4 tahun.

“Anak tertuanya masih sekolah di SMP, usianya 16 tahun. Yang paling kecil lahir tahun 2017,” ujar Khairil saat ditemui belum lama ini.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang kakak yang telah terbiasa melaut memanfaatkan keahliannya memancing ikan di sekitar perairan Pulau Sagori. Hasil tangkapan itu menjadi tumpuan hidup mereka, sementara kebutuhan pokok seperti beras masih bergantung dari bantuan para tetangga.

“Sehari-hari mereka memancing ikan untuk makan. Kalau untuk beras, mereka biasa diberi oleh warga dan dimasak menjadi bubur,” tambah Khairil yang baru menjabat sebagai lurah beberapa bulan terakhir.

Kisah keenam anak yatim piatu ini telah mengetuk hati banyak pihak. Bantuan mulai berdatangan, mulai dari sembako dari Dinas Sosial, bantuan kelurahan, hingga rencana pembangunan rumah layak huni bagi mereka.

“Proposal pembangunan rumah sudah kami siapkan dan akan kami ajukan ke pemerintah daerah agar mereka bisa tinggal di tempat yang lebih baik,” pungkas Khairil.

Kisah mereka menjadi potret nyata perjuangan anak-anak di tengah keterbatasan, yang tetap bertahan dengan harapan dan semangat hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *